JAMALUDDIN AL-AFGHANI

Sayyid Jamaluddin al-Afghani yang bernama asli Jamaluddin bin Safdar dilahirkan pada tahun 1254 H / 1839 M, di sebuah kampung bernama Asad Abad dalam jajahan negeri Iran. Ayahanda beliau bernama Sayyid Safdar al-Husainiyyah (menurut cerita adalah seorang pegawai tentara Iran) yang telah lama bermigrasi ke Kabul. Nasabnya bertemu dengan Sayyid al-Turmudzi, seorang perawi hadits yang masyhur, juga dengan nasab Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib. Keluarganya berkuasa dan memerintah sebagian tanah Afghanistan hingga akhirnya kekuasaan mereka dirampas oleh Raja Muhammad Khan hingga akhirnya dipindahkan ke kota Kabul.


Sejak kecil Jamaluddin yang lebih dikenal dengan panggilan al-Afghani telah mendapat didikan agama yang mantap, pada mulanya beliau belajar tentang ilmu Bahasa Arab (nahwu, sharaf, balaghoh/sastera), lalu mengkaji ilmu-ilmu syari’at (tafsir, hadits, fiqh-ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf), dan mempelajari ilmu-ilmu sejarah, matematika, filsafat, mantiq, ilmu jiwa, ilmu falak, teori-teori kedokteran ilmu kajian tubuh manusia, serta ilmu keislaman lainnya.
Setelah membekali dirinya dengan seluruh cabang ilmu pengetahuan di Timur dan Barat (terutama Paris, Perancis), al-Afghani mempersiapkan misinya membangkitkan Islam. Pengembaraan intelektualnya dimulai setelah pengajiannya selesai. Al-afghani pun mulai merantau ke India yang pada waktu itu berada di bawah tekanan Inggris. Perlawanan terjadi di seluruh India dan al-Afghani pun turut ambil bagian dalam perlawanan ini dengan bergabung dalam peperangan kemerdekaan India pada bulan Mei 1857.

Sebagai modernis Islam pertama, yang pengaruhnya dirasakan di beberapa Negara, al-Afghani memicu kecenderungan menolak tradisionalisme murni dan westernisasi murni. Beliau menekankan aspek kekuatan yang sangat penting untuk menangkal Barat dan untuk meningkatkan solidaritas Muslim adalah Islam. Beliau juga menyerukan agar ada pembaruan dan perubahan di dalam sistem politik despotis yang berbendera Islam, serta serangannya terhadap mereka yang memihak imperialisme Barat atau yang memecah belah umat Islam.

Peran al-Afghani dalam gerakan reformasi Islam tertuang dalam beberapa sasaran, dan salah satu bukti kejeniusannya adalah diterbitkannya jurnal Al-‘Urwat al-Wutsqa. Sebuah jurnal anti penjajahan yang diterbitkannya di Paris. Jurnal ini segera menjadi barometer perlawanan imperialis dunia Islam yang merekam komentar, opini, dan analisis bukan saja dari tokoh-tokoh Islam di dunia, tetapi juga ilmuwan-ilmuwan Barat yang penasaran dan kagum dengan kecemerlangan al-Afghani. Jurnal tersebut beliau rintis bersama muridnya, Muhammad ‘Abduh. Tujuannya adalah: pertama, untuk membantah tuduhan Barat yang ditujukan kepada Timur khususnya orang-orang Islam dengan memutar balikkan propaganda Barat yang menyatakan bahwa kaum Muslimin tidak akan bangkit, selama mereka masih berpegang teguh pada agamanya.
Kedua, memaparkan bagi orang-orang Timur realita dan rahasia-rahasia Internasional, agar mereka tahu rencana-rencana politikus Eropa terhadap Islam. Ketiga, memperkuat hubungan antar umat Islam dan memberikan penjelasan tentang asas-asas solidaritas, untuk menepis intervensi politik luar dan juga seruan untuk menggali khazanah ajaran agama serta menjauhi fanatisme kelompok atau golongan.

Sedangkan ideologi yang beliau tawarkan adalah: agama sebagai balance umat yang di dalamnya terdapat kebahagiaan, kemenangan dan mobilisasi kehidupan. Sementara atheisme adalah destruksi negra dan umat. Selain itu, dalam perjalanannya beliau sering menawarkan konsep musyawarah, demokrasi dan keadilan dalam pemerintahan.
Al-Afghani meninggal pada tanggal 9 Maret 1897 di Bandar Konstantinopel kota Istanbul Turki dan dikubur di sana. Jasadnya dipindahkan ke Afghanistan pada tahun 1944. sebagian riwayat menceritakan beliau meninggal akibat racun dan ada pendapat kedua yang menyatakan bahwa ada rencana sultan untuk membinasakannya dan ada juga yang mengatakan beliau meninggal karena kanker yang dideritanya sejak tahun 1896.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tasyakur Pada HUT Guru, IGI, Dan Pernikahan

Games Kuis Tajwid Alif Lam