Tasyakur Pada HUT Guru, IGI, Dan Pernikahan

Tiga hari berturut-turut (25, 26, 27 Nopember 2013) ini saya memanjatkan syukur kepada Allah SWT dalam tingkat kesyukuran yang mungkin berbeda seperti biasanya. Bukan hanya dengan kalimat Alhamdulillah saja yang tertabur dari lubuk hati yang paling dalam, melainkan aplikasi syukur dalam kegiatan yang dikemas dengan tasyakuran. Bagaimana tidak, ketiga hari itu baru saya sadari merupakan urutan bersejarah dalam transformasi kehidupan saya. Karena itu pulalah saya amat bersyukur sampai saat ini masih diberi nikmat agung berupa kesehatan dan umur dalam keadaan iman dan Islam yang insya Allah masih istiqomah. Tiga hari itu adalah hari ulang tahun (HUT) dari mulai hari Guru (25 Nopember), HUT Ikatan Guru Indonesia (26 Nopember) dan terakhir di 27 Nopember adalah HUT pernikahan kami (wedding anniversary).


Dimulai di tanggal 25 Nopember 2013 sebagai HUT (PGRI) atau Hari Guru dimana banyak sekolah dan guru-gurunya menjalankan upacara untuk menghormati jasa para guru. Bukan sebuah kesengajaan bagi saya untuk memilih profesi sebagai guru sebagaimana banyak guru yang terjun karena keterpaksaan. Ya, saya sudah meniatkan jadi guru sejak SD. Silahkan baca tulisan saya “kenapa saya jadi guru?” disana. Kini di usia saya yang masih muda dan pengalaman sebagai guru yang juga masih muda bersyukur kepada Allah bisa diberikan berbagai pengalaman bertemu dengan guru-guru hebat. Khusus hari guru tahun ini saya hadir di acara opening Gebyar Pentas PAI nasional 2013. Bersama guru-guru yang tergabung di Asosiasi Guru PAI Indonesia (AGPAII) Kota Bekasi kami mensyukuri hari guru dengan mengirimkan bakat-bakat putera-puteri kami dalam mengaktualisasikan nilai-nilai keislaman. Harapan kami semoga kami mampu mengantarkan murid-murid kami ke gerbang pintu masa depan yang gemilang serta mereka nantinya bisa mengajak kami ke surga kelak.
Arena Pentas PAI nasional 2013 di Asrama Haji Kota Bekasi
Lanjut tanggal 26 Nopember 2013, hari ini sebagai kelahiran IGI (Ikatan Guru Indonesia). Organisasi guru-guru hebat yang men-taggline-kan ghiroh-nya dengan kalimat “Sharing and Growing Together”. Dengan berbagi maka kita semua para guru bisa tumbuh bersama, begitulah kira-kira core value-nya. Sedangkan untuk IGI Daerah Bekasi sendiri lahir 2 tahun setelah IGI Pusat berdiri. Maka kami pun para pengurus IGI Bekasi berinisiatif mengadakan silaturahim sekaligus tasyakuran hari guru plus HUT IGI Pusat. Bertempat di Sekretariat IGI Bekasi kami berkumpul. Jadwal yang kami sebar mulai dari pukul 15.00-17.00. Namun karena kita menyadari teman-teman sebagian masih menjalankan tugasnya sehingga baru maksimal datang sebelum maghrib. Saya pun tiba di sekretariat jam 5 sore langsung dari sekolah. Acara pun dimulai dengan shalat maghrib berjama’ah diimami oleh pak Gun (guru Agama Islam di Highscope Jakarta). Setelah shalat dilanjutkan dengan dzikir dan doa. Pemandu acara pak taufiq yang merupakan bendahara IGI Bekasi membuka acara dan mempersilahkan pak ustadz Rohim (Guru Madrasah Tsanawiyah Attaqwa Bekasi) memimpin dzikir. Tak ayal, saya pun didapuk untuk memimpin doa. Awalnya saya menolak karena masih banyak yang lebih senior dan afdhol untuk memimpin doa. Saya pun memanjatkan doa dengan 3 inti permohonan kepada Yang Maha Mengabulkan: Dimudahkan segala urusan, diberkahi umur kita, dan dikuatkan dalam menjalankan tugas dan kewajiban. Acara dilanjutkan sambutan dan arahan serta evaluasi program dan inisiasi program ke depan yang dipimpin oleh ketua umum IGI Bekasi bapak Dahli Ahmad. Terakhir yang tak ketinggalan yaitu prosesi potong tumpeng spesial dibuat oleh wakil ketua IGI Bekasi ibu Betti Risnaleni yang diserahkan pertama kepada “Omjay” Wijaya Kusumah (Dewan Penasehat IGI Bekasi) dan dilanjutkan kepada para pengurus dan aktivis IGI Bekasi.
Syukuran HUT IGI dan hari Guru di Sekretariat IGI Bekasi
bersama para pengurus IGI Bekasi [dok. nur alim]
Keesokan harinya, 27 Nopember 2013 merupakan hari bersejarah juga bagi saya. Dimana tiga tahun yang lalu saya memantapkan diri untuk mengakhiri masa lajang. Sungguh usia pernikahan yang masih seumur jagung namun sama halnya saya sebagai guru, kami masih berusaha dan belajar bersama untuk membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Saya sengaja tak mengingatkan hari itu kepada isteri saya. Selesai tugas di sekolah dalam perjalanan pulang saya mampir membelikan kue ulang tahun kemudian saya simpan di rumah. Ba’da maghrib isteri saya pun kembali ke rumah setelah mengajar privat lalu kami merayakannya dengan dzikir terlebih dulu, tadarrus serta doa bersama. Tak ketinggalan anak kami pun nampak senang melihat ada kue berlapiskan cokelat. Kami pun memberikan pemotong kue kepada dia. Setelah anak kami meniup lilinnya berkali-kali dan memotong kuenya kami tutup dengan makan bersama. Sungguh hari-hari yang indah dan menyenangkan.

Semoga usia Guru Indonesia, IGI dan pernikahan kami senantiasa dipanjangkan dalam kwalitas sebagai hamba, khalifah yang taat serta diliputi keberkahan dan keridhoan Allah subhanahu wa ta’alaa. Aaamiin....       

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Games Kuis Tajwid Alif Lam