REORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONSTELASI GLOBAL

Sebagian umat Islam secara terang-terangan menunjukkan ketakutan dan kekhawatiran dalam merespon setiap pemikiran dan aliran baru yang merambah dunia Islam, baik di bidang ekonomi, politik yang berasal dari Timur maupun dari Barat. Ironisnya, dari kecenderungan tersebut mereka justeru cenderung bersikap resisten demi melindungi nilai-nilai luhur agama dan identitas umat Islam dari pengaruh negatif berbagai pemikiran, aliran baru bahkan transformasi global. Bahkan sampai pada tingkat tertentu, mereka juga berkeyakinan bahwa semua itu merupakan sebuah perang atau konspirasi terencana untuk menghancurkan Islam dan identitas kaum Muslimin.

Tak terkecuali pada segmen pendidikan (Islam), transformasi dunia melalui teknologi informasi dan komunikasi yang semakin global juga memiliki tendensi yang sangat menakutkan. Karena secara simplistik – sadar atau tidak – kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah memposisikan dunia sebagai desa global. Konsekuensinya, meminjam istilah Prof. Dr. Sudarwan Danim sekolah-sekolah pun telah berada pada desa global tersebut (school in the global village).

Globalisasi adalah hal yang tidak dapat dipungkiri dan memang tidak perlu dihindari. Pada tataran mikro (baca; pendidikan Islam) persoalannya adalah bagaimana menampilkan visi pendidikan Islam dalam kancah global tersebut, sehingga pendidikan Islam dapat berperan dalam masyarakat global tersebut. Memang, implisitas globalisasi mengandung anarsir-anarsir pokok dan elementer. Tetapi kenyataannya pada sisi lain globalisasi telah mengurung umat manusia di seluruh penjuru dunia dari berbagai arah. Oleh karenanya, fenomena globalisasi yang paling penting untuk disorot (dalam kaitannya dengan pendidikan Islam) adalah penyebaran cara pandang (paradigma) seputar relasi (hubungan) keluarga, sains-iptek, sosial-masyarakat yang notabene merupakan pemeran utama globalisasi.

Dewasa ini, peradaban dunia secara keseluruhan berada dalam tatanan global yang secara mendasar ditopang oleh perkembangan teknologi komunikasi, transportasi dan informasi. Semuanya ini membuat dunia semakin sempit karena mudahnya dijangkau. Inilah fenomena ‘globalisasi’, yang secara simplistik dipahami sebagai suatu proses pengintegrasian budaya, politik, ekonomi dan informasi nasional bangsa-bangsa ke ruang lingkup dan tatanan baru sistem jaringan dunia global.

Pendidikan Islam dalam Konstelasi Global

Pendidikan di Indonesia secara umum, seringkali diklaim kurang mampu dalam menjawab tantangan, perubahan, dan tuntutan masyarakat. Sehingga out-putnya kurang memiliki ‘kesiapan riil’ bagi kepentingan profesi dan juga pengembangan bagi disiplinnya. Pendidikan yang seharusnya berwatak dinamis-kreatif telah ‘terjerat’ oleh kepentingan-kepentingan emosional yang sifatnya semu. Pada tataran makro, bagaimanapun teknologi terus berkembang. Oleh karenanya, dunia pendidikan – terlebih di era globalisasi – harus membekali peserta didik dan out-put pendidikan untuk siap kembang (ready for develop), siap didik (ready for learning), siap latih (ready for train).

Pada titik ini, pendidikan Indonesia menghadapi tantangan internal dan eksternal yang berat. Problem internal terkait dengan dunia pendidikan sendiri, seperti filsafat dasarnya, infrastruktur, sumber daya manusia, dana dan kelembagaan dalam kebijakan pendidikan. Secara eksternal, pendidikan Indonesia dihadapkan pada problem nasional dan kompleksitas problematik globalisasi. Lebih jauh, problem global dipicu oleh tantangan dan dampak revolusi teknologi informatika, komunikasi dan komputer. Revolusi teknologi yang menjadi sokoguru kapitalisme ini menciptakan kompetisi antar bangsa yang bercorak keunggulan sumber daya manusia. Juga berbagai dampak buruk yang menyertakan yang terangkum dalam isu global serta hegemoni ekonomi negara maju.

Pada tahun 1990, John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam Megatrends 2000, merumuskan sepuluh kecenderungan peralihan yang secara mendasar mengubah wajah kehidupan dunia global. Kesepuluh trend tersebut adalah : Pertama, ledakan ekonomi global dan globalisasi ekonomi. Kedua, kebangkitan kembali seni budaya. Ketiga, munculnya ekonomi global sosialis. Keempat, berkembangnya gaya hidup global dan nasionalisme kultural. Kelima, swastanisasi negara-negara sejahtera. Keenam, bangkitnya wilayah Pasifik. Ketujuh, bangkitnya kepemimpinan wanita. Kedelapan, kejayaan era biologi. Kesembilan, kebangkitan kembali era agama. Kesepuluh, berjayanya individual.

Pergaulan (fenomena) global dengan kecenderungannya di atas, di samping mendatangkan sejumlah kemudahan bagi manusia, juga mendatangkan sejumlah efek negatif yang sangat merepotkan disana-sini. Dampak negatif tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : Pertama, kemiskinan nilai spiritual. Kedua, kejatuhan manusia dari makhluk spiritual menjadi makhluk material, yang menyebabkan nafsu hayawaniah menjadi pemandu kehidupan manusia. Ketiga, peran agama digeser menjadi urusan akhirat, sedang urusan dunia menjadi urusan sains (sekularistik). Keempat, Tuhan hanya hadir dalam pikiran, lisan, dan tulisan, tetapi tidak hadir dalam perilaku dan tindakan. Kelima, gabungan ikatan primordial dengan sistem politik modern melahirkan nepotisme, birokratisme, dan otoriterisme. Keenam, individualistik. Ketujuh, terjadinya frustasi eksistensial (Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi: 2004, hlm. 282).

Dalam kaitannya dengan pendidikan Islam, sampai pada saat ini, masih dihadapkan pada kesulitan untuk mengintegrasikan dua kutub paradigma keilmuan dualistik (dikotomik). Pada satu sisi, harus berhadapan dengan subyek-subyek sekuler, dan pada sisi yang lain dengan subyek-subyek keagamaan. Subyek-subyek sekuler biasanya terdiri dari jenis keilmuan umum. Sementara subyek-subyek keagamaan terdiri dari jenis sains wahyu, seperti al-Qur’an, al-Hadits, dan sebagainya.

Dari dikotomi di atas, orientasi pendidikan Islam masih didominasi oleh sains jenis kedua, sementara pengkajian terhadap jenis sains-sains alam masih berkurang. Padahal, menurut terminologi filsafat Islam, Tuhan menurunkan Qur’annya dalam dua bentuk; al-Qur’an yang tertulis (recorded Qur’an), yaitu wahyu yang tertulis dalam lembaran buku yang dibaca oleh umat Islam setiap hari; dan al-Qur’an yang terhampar (created Qur’an), yaitu alam semesta, jagad raya atau kosmologi ini (Sayyed Hossein Nasr; 1968, hlm 95).

Untuk mengkonstruksi visi atau orientasi pendidikan Islam dalam kancah globalisasi, maka pendidikan Islam sangat perlu mengintegrasikan antara subyek-subyek keagamaan dengan subyek-subyek sekuler (iptek) dalam satu paket pembelajaran. Dengan terintegrasinya dua kutub tersebut, maka dapat mewujudkan terciptanya kualitas anak didik yang mempunyai kemampuan ‘3 H’, yaitu head (aspek kognitif dan kecerdasan otak), heart (aspek afektif dan kecerdasan emosi dan spiritual), dan hand (aspek psikomotorik dan kecakapan teknis).



Reorientasi Paradigma (Konseptual) Pendidikan Islam


Disamping persoalan-persoalan yang ada pada umat Islam sendiri, urgensi suatu orientasi konseptual mengenai pendidikan Islam terletak pada kaitannya dengan persoalan umat manusia pada umumnya, khususnya persoalan-persoalan yang dewasa ini menjadi isu internasioanl mengenai berbagai ancaman terhadap kelangsungan manusia di bumi. Di Indonesia, isu tersebut juga sering menjadi pembicaraan serius para ilmuwan. Kesimpulan pada umumnya bahwa problem-problem yang mengancam kelangsungan manusia tersebut menuntut upaya mengadakan tinjauan kembali ke dunia pendidikan.

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik memiliki peran di masa datang. Masa mendatang yang bisa diprediksi dari fenomena sekarang adalah masa yang akan ditandai oleh lima kompleksitas yang saling berkaitan dan telah mengambil peran dalam menggerakkan proses peradaban universal, yakni melalui: Pertama, perkembangan teknik dan industri. Kedua, kemantapan sistem ekonomi global dan pasar bebas. Ketiga, kemantapan yang tak terpisah dari hal di atas yakni jangkauan yang lebih canggih dari bidang komunikasi dan informasi. Keempat, pengetahuan mengenai penghancuran yang semakin destruktif terhadap sumber daya alam bagi kelestarian kemanusiaan yang sudah akut, menakutkan, serta dampak perkembangan teknologi industri dan ekonomi. Kelima, ledakan jumlah penduduk di berbagai negara dengan pengertian bahwa sekarang dan masa depan yang tidak terkendalikan oleh kebijakan setiap kelompok yang terpisah-pisah baik etnis, bangsa, atau blok-blok negara. Dengan demikian tidak ada pilihan kecuali menerima (secara akomodatif) kehidupan multi etnik, budaya, religius dalam transformasi masyarakat global.

Jika kita memandang pendidikan Islam dari sudut persoalan kompleksitas global tersebut, baik dari sudut resiko yang dihadapi maupun peluang yang terbuka menjadi jelas. Pendidikan dan ilmu pengetahuan dewasa ini dihadapkan pada tugas baru yang besar dan berat. Ilmu pendidikan, para pendidik, dan unsur kependidikan harus memiliki cara pandang universal dan itu merupakan suatu prinsip cara pandang internasional yang harus berlaku bagi seluruh bangsa, negara, dan kebudayaan. Wawasan pendidikan Islam harus bebas dari jeratan dan sekat-sekat pemikiran yang sempit, primordial, dan eksklusif.

Dalam menghadapi konstelasi global dan peradaban baru yang terbentuk atas paradigma teknologi industri, peran dan eksistensi pendidikan Islam terus dituntut mengadakan perubahan dan pembaharuan. Fungsi pendidikan secara umum pun selalu berubah, sejalan dengan beralihnya kekuasaan pengontrolnya. Pendidikan kini tak lagi mengutamakan upaya memanusiakan manusia (agar tak kasar dan primitif), melainkan sudah terasah dan terarah menjadi makhluk yang etis dan estetis, berbudi dan berbudaya. Kini pendidikan yang harus sudah mengutamakan terciptanya manusia baru yang produktif, terlihat dari sosoknya sebagai homo economicus yang rasional, efektif, dan efisien (Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi; 2004, hlm. 295-296).

Dengan demikian, pendidikan merupakan salah satu entitas sosial yang terelasi dengan teks sosial yang melingkupinya. Artinya, konstruksi pendidikan suatu bangsa merupakan salah satu metafor kebudayaannya yang merefleksikan ideologi dan filsafat pendidikannya. Karena itu, persoalan sosial suatu bangsa tidak dapat dilepaskan dari konstruksi pendidikannya yang menjadi kerangka kerja proses sosial.

Pada tataran hilir, ketika pendidikan Islam diseting untuk memenuhi hanya salah satu aspek dalam kehidupan manusia (seperti kepentingan pasar global), maka pendidikan Islam tidak dapat responsif menghadapi dinamika dan perubahan sosial yang kompleks. Pendidikan yang tidak dirancang untuk menjawab tantangan secara komprehensif dan gradual tantangan global masa depan ini, menjadikannya mengalami stagnasi bahkan involutif karena gagal mengakomodasi transformasi sosial yang ada.

Pendidikan Islam juga harus dibebaskan dari proyek hegemoni penyebaran teori modernisasi yang mendarah daging. Sehingga, pendidikan tidak hanya wahana transfer of knowledge yang oleh Freire dikatakan tidak lebih dari pendidikan preskriptif, jauh dari pendidikan dialogis yang ideal. Karenanya, pendidikan Islam juga harus dibaca sebagai salah satu entitas sosial yang diletakkan dalam kerangka besar transformasi masyarakat Indonesia.

Demikian sekelumit persoalan global dan universal yang harus diantisipasi oleh pendidikan Islam. Sehingga pendidikan Islam akan mampu mengambil peranannya yang penting dalam arus peradaban dunia tersebut. Analitis sederhana di atas menunjukkan bahwa transformasi dan peradaban masa depan masih tetap didominasi oleh budaya yang bersumber pada paradigma teknologi dan industri. Pendidikan Islam akan menjadi alternatif dalam kancah global tersebut.

Tanpa mereorientasi paradigma pendidikan Islam untuk masa yang akan datang, tentunya pendidikan Islam tidak mampu memberi kontribusi dalam transformasi sosial. Bahkan, jika pendidikan Islam masih tetap menghirup udara sosial-positivistik, maka barangkali perlu direnungkan kembali pandangan sejarah Levi Strauss, yang melihat pengembangan sains hanya akan membawa manusia pada kehancuran struktur nilai peradabannya.





Referensi :

Danim, Sudarwan, Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan, Yogayakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Fakih, Mansour, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, Yogyakarta: INSIST PRESS, 2003.

Hitami, Munzir, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam, Yogyakarta: LKiS, 2004.

Maksun, Ali dan Ruhendi, Yunan, Luluk, Paradigma Pendidikan Universal di Era Modern dan Post-Modern; Mencari “Visi Baru” atas “Realitas Baru” Pendidikan Kita, Yogyakarta: IRCiSoD, 2004.

Zaqzuq, Hamdi, Mahmud, Reposisi Islam di Era Globalisasi, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tasyakur Pada HUT Guru, IGI, Dan Pernikahan

Games Kuis Tajwid Alif Lam